Suwandi Sumartias

bincang-bincang komunikasi politik

“Quo Vadis” Aspikom?

Oleh Suwandi Sumartias

Pekerjaan bagi para penyelenggara pendidikan tinggi ilmu komunikasi untuk membuat kurikulum yang berbasis kompetensi dan kompetesi dalam ranah praksis komunikasi kontemporer dan profesional, masih harus terus dipacu secara berkelanjutan dan serius, agar para lulusannya tak mudah diintervensi lulusan nonkomunikasi. Demikian simpulan Kongres I Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) se-Indonesia di Bandung, 5-6 Juni 2008.

Mencermati opini Sdr. Elvinaro Ardianto (Pikiran Rakyat, 5 Juni 2008) yang berjudul “Membumikan Eksistensi Ilmu Komunikasi”, sebenarnya ingin menegaskan bahwa begitu besar tantangan para pengelola pendidikan tinggi ilmu komunikasi untuk menyamakan orientasi, visi, misi, dari penyelenggaraan pendidikan ilmu komunikasi baik sebagai ilmu dan seni (science and art). Sebagai ilmu yang dibidani oleh para ahli di bidang sosiologi, psikologi sosial, politik, dan antrolopogi, sehingga positioning ilmu komunikasi dalam ranah keilmuan sosial sulit mencari jati diri untuk tidak bersinggungan dengan imu-ilmu lainnya. Wilbur Schramm (komunikolog Amerika Serikat) menyebut ilmu komunikasi lahir di antara berbagai kajian ilmu, atau menyebutnya sebagai crossroad science (ilmu di persimpangan jalan).

Dengan kondisi tadi, pada tataran praksis profesional, bidang pekerjaan ini amatlah terbuka untuk diminati lulusan nonkomunikasi. Apalagi dunia komunikasi adalah dunia simbol (verbal maupun nonverbal), sehingga siapa pun orang yang merasa memiliki kemampuan dan keterampilan untuk mengelola dan menyampaikannya, maka jadilah seorang praktisi komunikasi yang andal dan profesional. Dan wacana inilah yang mengemuka pada Kongres I yang menghadirkan praktisi media massa, yang kebetulan bukan alumni komunikasi (antara lain Ridlo Eisy- Ketua Umum SPS dan alumnus ITB, Harley Prayuda –PRSSNI dan alumnus UPI, Jimmy Silalahi-ASTVLI, Tarman Azzam- PWI Pusat, dll.). Sementara itu, dari kalangan akademisi hanya Prof. Dr. Engkus Kuswarno (Fikom Unpad).

Perspektif para praktisi terhadap lulusan Fikom kembali mengalami distorsi pemahaman dan pemaknaan, bahkan menegaskan bahwa lulusan ilmu komunikasi tidak siap pakai. Pemikiran dikotomis semacam ini telah jadi wacana yang klasik, di saat pasar kerja selalu berharap lulusan perguruan tinggi harus terampil dan siap bekerja. Jelas hal ini bertentangan dengan filosofi dan hakikat pendidikan sebagai sarana memanusiakan manusia dalam ranah idealisme, etika moral, intelektualis, religius, dan egaliter yang sering terabaikan dan menjadi tak jelas dalam ranah praksis. Keadaan ini terjadi karena terlalu berorientasi pasar kerja, sehingga perguruan tinggi diibaratkan menjadi lembaga kursus dan atau keterampilan, sehingga tak heran akan muncul manusia-manusia mesin yang kehilangan sisi kemanusiaan.

Terlalu banyak indikator kelemahan yang harus dibenahi, mulai dari sistem birokrasi pendidikan dari pusat sampai daerah; komitmen para penyelenggara pendidikan komunikasi yang masih tidak jelas orientasinya; kurikulum yang tidak membumi karena masih mengacu pada pola pendidikan barat semata; etika moral profesi, keberadaan alumni serta pendidikan tinggi yang belum mengakar. Hal ini terbukti banyaknya lulusan ITB, IPB, UPI, dan universitas lain yang tidak menyelenggarakan pendidikan komunikasi, tetapi bekerja di bidang komunikasi.

Keadaan ini hanya menguatkan bahwa penyelenggaraan pendidikan komunikasi teramat mudah untuk diintervensi lulusan nonkomunikasi; wacana profesional di bidang ilmu masing-masing sangatlah longgar, bahkan sangat tergantung individu yang bersangkutan, khususnya untuk bidang ilmu sosial (sebagian eksakta); rendahnya kesadaran dan komitmen para pengusaha, elite birokrasi untuk saling menghargai bidang ilmu. Kondisi ini tentunya menjadi tantangan untuk terus melakukan revitalisasi kurikulum yang berbasis kompetensi dan kompetisi namun tetap membumi sesuai tujuan dan hakikat pendidikan itu sendiri.

Tantangan utama

Minimnya pemahaman dan pemaknaan para praktisi (kebetulan bukan lulusan pendidikan komunikasi) tidaklah harus membuat ciut dan miris para pengelola pendidikan tinggi komunikasi, apalagi pesimis, karena the right men for the right job di Indonesia masih memerlukan upaya dan waktu yang amat panjang. Selama kondisi sistem pendidikan belum dibuat secara profesional, membumi dan mengedepankan manusia sebagai manusia pelaku yang menghargai nilai-nilai moralitas, idealisme, serta intelektualis. Jika penyelenggaran pendidikan komunikasi hanya bertumpu pasar, keberlanjutan komunikasi sebagai ilmu dan seni tentu akan menemui ajalnya, karena tidak akan lahir ilmuwa-ilmuwan baru dan para akademisi bidang komunikasi, hal inilah yang selalu luput dari para praktisi.

Para praktisi selalu berpikir dari sisi keterampilan semata, sisi pengembangan keilmuan dan keahlian selalu terpinggirkan. Sebagai contoh ironis, seorang nara sumber dalam kongres tersebut begitu yakin bahwa kurikulum komunikasi yang berlaku di pendidikan komunikasi saat ini masih memakai kurikulum tahun 50/60-an. Dan yang paling menyedihkan, mereka tak memiliki data-data alumni komunikasi yang memadai dan atau amatlah minim, hanya karena diukur oleh pengalaman sendiri di lingkungan kecil tempatnya bekerja. Sungguh suatu kesimpulan dan generalisasi yang teramat gegabah. Dalam tataran seperti ini, para akademisi seolah takluk pada situasi dan tuntutan pasar para praktisi. Dan para akademisi telah kehilangan momentum untuk menganalisis, pasar kerja seperti apa dan yang bagaimana yang diinginkan pasar.

Tantangan bersama yang harus dibangun adalah bagaimana menyinergikan berbagai potensi profesi komunikasi dan keilmuan antara para user (praktisi) dengan para akademisi (ilmuwan komunikasi). Hal ini dibuktikan oleh negara-negara maju (Jepang, Eropa, AS, Australia, dll.) untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai partner dalam riset dan pengembangan perusahaannya, tidak hanya butuh dan memakai lulusannya. Bahkan perusahaan untuk membantu pengembangan perguruan tinggi. Termasuk memberi beasiswa bagi para mahasiswanya yang berpretasi.

Tantangan lainnya yang perlu dikaji dan dipahami bahwa kondisi riil pemerintah sampai saat ini belum serius menangani sistem pendidikan di negeri ini, terbukti dari anggaran penyelenggaran pendidikan nasional yang digariskan UU Sisdiknas sebanyak 20% dari APBN belum dapat diwujudkan, dan langkah ini sungguh menihilkan dan mencerminkan ketidakseriusan perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Malaysia, Jepang, Korea, Singapura, rata-rata berkisar 25%- 60% untuk anggaran pendidikan. Dengan sangat minimnya anggaran pendidikan, alih-alih dikeluarkan secara bertahap (dicicil) sampai tahun 2009, salah satu akibatnya adalah kesejahteraan komunitas pendidik yang sangat rendah baik secara nominal maupun fungsional, dan jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia (termasuk di tingkat ASEAN), Indonesia termasuk yang paling rendah gajinya.

Maka untuk menuju dan menjadikan komunikasi yang profesional banyak faktor yang memengaruhinya, selain SDM, sistem dan teknis birokrasi, juga manajerial pendidikan nasional maupun internasional. Apalagi pengangguran dan kemiskinan tinggi masih menghantui masyarakat kita, serta pendidikan yang amat mahal, sehingga turut serta membuka profesi komunikasi dirambah siapapun lulusan perguruan tinggi, namun Aspikom bukan berarti harus membentengi diri dengan berbagai aturan yang sulit indikatornya, namun lebih pada penguatan kompetensi keilmuan dan profesionalnya bidang komunikasi, apalagi mampu meminimalisasi intervensi keilmuan bidang lainnya di luar komunikasi. Hal ini akan lebih menjawab tantangan ilmu komunikasi untuk dapat berkiprah dan menjawab dalam berbagai perubahan masyarakat yang global, namun tetap memiliki jati diri yang signifikan sebagai manusia Indonesia yang beradab, maju, anti kekerasan, dan tak mudah dijajah serta dilecehkan negara lain. Quo vadis Aspikom?***

Penulis, peserta Kongres I Aspikom, Mahasiswa S-3 Komunikasi dan Pegiat Pendidikan di Fikom Unpad

Tulisan ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat

http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=18157

Advertisements

4 November, 2008 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: