Suwandi Sumartias

bincang-bincang komunikasi politik

“Quo Vadis” Pilwalkot?

Oleh Suwandi Sumartias 

Pada hari Ahad, 10 Agustus 2008, warga Kota Bandung akan menyelenggarakan “pesta demokrasi” untuk memilih calon wali kota yang baru, yang terbaik menurut hati nurani, dengan penuh tanggung jawab sebagai insan politik yang dewasa, kritis, dan cerdas. Warga yang memiliki hak pilih dalam pemilihan wali kota (pilwalkot) tersebut berjumlah 1.537.074 orang (773.557 laki-laki dan 763.517 perempuan) dari jumlah warga Kota Bandung yang tercatat 2,5 juta jiwa.

Berbagai upaya yang maksimal telah dilakukan para kandidat wali kota tanpa ekses negatif yang mengkhawatirkan, kampanye simpati dilakukan tanpa rintangan. Kompetisi yang fair dalam ranah demokrasi menjadi pedoman normatif yang harus dijaga bersama. Kalah dan menang selalu menjadi konsekuensi logis dalam sebuah “pertarungan politik”. Perang citra (image war) telah dilalui bersama, kini hanya menunggu partisipasi dan bukti nyata pada hari Ahad nanti. Berbagai harapan dan kecemasan dalam menunggu hasil tak bisa dihindari. Itulah realitas yang harus dihadapi. Apalagi jika dihadapkan pada berbagai isu dan permasalahan yang sedang menerpa para politisi kita. Praksis politik dan elite birokrasi telah menjadi satu fenomena nasional yang kontraproduktif. Akhir-akhir ini, sinisme sosial dan pesimisme rakyat mengalami penguatan dengan munculnya berita-berita miring tentang sepak terjang para elite di semua level lembaga politik dan birokrasi. Keprihatinan sosial dan moral menjadi pertaruhan yang tak bisa dihindari dalam Pilwalkot Bandung 2008.

Memilih pimpinan

Untuk melahirkan dan memilih pimpinan bagi Kota Bandung, bukanlah sesuatu yang sulit, jika hanya berlandaskan indikator normatif dalam bentuk verifikasi kelengkapan administrasi dan curriculum vitae semata. Namun memilih pimpinan terasa menjadi tugas berat, jika indikator sosial dan moral tidak menjadi perhatian panitia pilwalkot , apalagi rakyat pemilih. Dua indikator ini, tidak mungkin dapat dipahami lewat kampanye saja, namun sebagai produk sosial budaya dan interaksi antara para calon dengan rakyat selama ini.

Memilih dan memilah pimpinan terbaik amat terkait dengan banyak variabel yang memengaruhinya, pedoman cageur, bageur, bener, pinter tur singer belumlah memadai jika tidak memiliki jiwa kepemimpinan yang bijak dan jembar hate, nyaah ka sasama, nyaah ka rahayat leutik. Dan semua barometer kepemimpinan ini tidak hanya harus dimiliki oleh para calon (kendatipun sulit ukurannya), namun juga oleh rakyat pada umumnya. Sehingga munculnya pemimpin terbaik hasil pilihan merupakan proses timbal-balik yang harus dipahami dan dikawal bersama. Jika nanti lahir pemimpin yang tak mampu membuktikan janjinya, bahkan mengkhianati, mengecewakan, apalagi menjadi terpidana karena melanggar berbagai aturan, hal ini bukan hanya menunjukkan bahwa rakyat kita telah salah pilih, namun juga menjadi indikator bahwa rakyat tak mampu belajar dari pengalaman masa lalu, sehingga terjerumus ke lubang yang sama. Sehingga perubahan ke arah yang lebih baik, hanyalah janji dan retorika dalam kampanye politik.

Mencoba merenungkan sejenak terhadap visi ketiga Cawalkot Bandung yakni (1) Visi Dada-Ayi: Memantapkan Kota Bandung Kota Jasa Bermartabat; (2)Visi Trendi: Terwujudnya Bandung yang Kreatif, Nyaman, dan Sejahtera; (3) Visi Hadi: Bandung Sejahtera adalah Kota Jasa yang Layak Huni dan Berdaya Saing dengan Warga yang Beriman, Sehat Terdidik, dan Memiliki Kemampuan Daya Beli untuk Hidup Layak. Tentunya, tak ada keraguan dan kekeliruan dalam visi-visi politik tersebut, semuanya tampak memiliki janji-janji positif yang begitu meyakinkan.

Persoalan umum

Yang menjadi tantangan bersama warga Kota Bandung, khususnya calon wali kota terpilih, antara lain bagaimana memelihara dan menjaga bahwa kepemimpinan itu adalah suatu amanah yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di depan pengadilan sosial warga Kota Bandung, juga di pengadilan akhirat.

Persoalan riil yang sangat kasat mata bahwa Kota Bandung yang dulunya terkenal sebagai kota Parijs van Java, kini berubah menjadi kota padat penduduk dan bertembok tebal, kenyamanan dan kesejukan berganti dengan kemacetan dan tata ruang yang semakin semrawut. Sebagai kota dengan banyaknya lembaga pendidikan bermutu, tak selalu identik dengan kemajuan pesat sebagai kota pelajar dan pendidikan, karena harus berdampingan dengan pusat-pusat belanja yang semakin menjamur tanpa kendali. Jumlah pengemis, pengamen jalanan semakin hari semakin meningkat, PKL begitu marak di wilayah tujuh titik yang diatur Perda No. 11/2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3).

Kebijakan tambal sulam, spontan serta reaktif dan bergaya kapitalis, konsumtif, permisif, dan hedonis yang amat pragmatis lebih mengemuka daripada mengedepankan kepekaan dan tanggung jawab sosial serta moral. Hutan lindung dan resapan air di Bandung Utara telah berganti wajah dengan “pepohonan dari besi dan semen” maka banjir menjadi langganan di musim penghujan, rumah kaca akibat polusi yang tinggi, membuat Kota Bandung semakin panas. Kondisi ini seakan mengingatkan penulis terhadap hasil polling SMS yang dilakukan HU Pikiran Rakyat pada saat ulang tahun Kota Bandung ke-196 Bulan September 2006, di mana 70%-90% dari 500 responden menilai bahwa ruang publik; lalu lintas dan pelayanan publik di Kota Bandung perlu diubah dan dikaji ulang, serta belum dapat memuaskan masyarakat. Belum lagi persoalan-persoalan yang sedang melanda semua elemen birokrasi yang tampak undercover.

Dari semua persoalan di atas, pada akhirnya pilwalkot kali ini akan sangat menentukan sosok pimpinan yang akan mampu mengelola Kota Bandung lima tahun ke depan yang lebih baik dalam berbagai perspektif dan kepentingan. Ataukah hanya akan melahirkan pimpinan daerah yang elitis dan tidak populis di Kota Bandung. Akankah pilwalkot kali ini hanyalah prosesi rutin dari konstelasi praksis politik atau tidak lebih sebagai “permainan panggung sandiwara” dari para politisi kita.

Untuk menutup tulisan ini, penulis mengutip ungkapan bijak Martin Luther King bahwa “We are as strong as the weakest of the people” (kita tidak akan menjadi bangsa yang kuat dan besar kalau mayoritas masyarakatnya masih lemah dan miskin). Quo Vadis Pilwalkot Bandung?***

Penulis, mahasiswa S-3 Komunikasi dan staf pengajar Fikom Unpad.

http://www.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=27010

 

 

Advertisements

4 November, 2008 - Posted by | Uncategorized

1 Comment »

  1. wilujeng sumping kang, diantos postingan sejenna

    Comment by teddykw | 6 November, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: